Karya: Grace Christine Malau
Zahra
POV
Disuatu sore, aku dan adikku sedang duduk di teras depan rumah. Kami
berbincang-bincang dengan ibu, sambil menunggu ayah pulang dari tempat kerjanya.
Kami bersama sama memandang indahnya langit sore yang berwarna jingga. Aku
berfikir, betapa beruntungnya aku mempunyai keluarga yang bahagia serta
harmonis. Ah andai ayah sudah ada disini. Akupun jadi teringat dan berfikir
bagaimana dulu hubungan ayah dengan ibu. Oh ya, sebelumnya perkenalkan, namaku
Zahra, aku mempunyai adik bernama Zahwa dan mempunyai orang tua yang sangat
menyayangi kami. Ayahku bernama Zaidan dan ibuku bernama Zahara. Yahh inisial
nama kami dari huruf Z semua hehe.
"Ibu, ayo ceritakan bagaimana
kisah ibu dengan ayah dulu. Bagaimana kalian bisa berhubungan sampai menikah
saat ini?" pintaku pada ibu.
Berhubung
adikku masih berumur 5 tahun, jadi dia hanya diam memperhatikan kami saja.
Maklum, dia belum terlalu mengerti.
"Hmm
baiklah.... tapi ibu mulai dari mana ya?" kata ibu sambil berfikir.
Dan akhirnya
mengalirlah cerita ibu.
"Sebelumnya, ibu akan cerita
sedikit. Jadi pada saat itu, sekitar tahun 1993, saat dimana ibu berumur 18
tahun dan duduk di bangku SMA kelas 3. Ibu menyukai salah seorang pria. Dia
tinggi, tampan dan suka menebar senyum. Dia juga seorang kapten futsal di
sekolah ibu, itu sebabnya dia selalu bermain bola saat pulang sekolah. Selain
itu, dia juga seorang pria yang di gemari oleh banyak perempuan. Hal itulah
yang membuat ibu tidak berani mengungkapkan perasaan ibu kepadanya. Dan yang
bisa ibu lakukan hanya diam diam memperhatikannya, sampai kami lulus
sekolah."
"Hmm
seperti pengagum rahasia ya." ucapku sambil menaruh jari di dagu. Seakan
akan sedang berfikir.
"Yahh
kira-kira begitulah," jawab ibu.
Singkat cerita, setelah lulus
sekolah. Ibu dan laki-laki yang ibu sukai berpisah. 5 tahun pun berlalu. Diumur
23 tahun, ibu bekerja disalah satu kantor dan menjabat sebagai salah satu
karyawan disana.
"Dan
awal ketika ibu kembali bertemu ayah kalian dan kami menjadi dekat adalah..."
Flashback
on
Zahara
POV
Disuatu pagi, aku sudah berpakaian
dan akan berangkat ke kantor untuk bekerja. Setibanya di kantor, aku meletakkan
barang-barangku di meja.
"Hai
Zah." sapa temanku.
Dia Ratna, teman dekat ku dari SMA
hingga sekarang. Yahh kami memutuskan bekerja di tempat yang sama. Meja kami
pun bersebrangan.
"Hai
juga Rat, sudah sarapan?"
"Sudah
dong."
Kami berbincang-bincang sedikit
sampai akhirnya jam kerja dimulai. Seperti biasanya kami akan menyelesaikan
pekerjaan kami. Pukul 12.30 pun tiba, yang artinya waktu jam istirahat. Aku dan
Ratna pergi ke kantin untuk makan siang.
"Eh
Zah, tau ga kal..."
"Ngga."
ucapku menyela.
Sengaja biar
dia kesal haha.
"Yee
denger dulu, aku kan belum selesai cerita." ucapnya menahan kesal. Tuhkann
dia kesal.
"Yaudah
lanjut!" ucap ku.
"Denger-denger nih kan, katanya
Pak Joko bakal digantikan sama anaknya dan kamu tau? Katanya anaknya ganteng
loh dan anaknya akan datang besok pagi." cerita Ratna excited.
Aku cerita sedikit, Pak Joko itu
adalah pemimpin perusahaan ini. Dia adalah pemimpin yang baik, ramah, tegas,
dan tentunya berkharisma. Dia juga masih terlihat tampan diumurnya yang
menginjak kepala lima alias 50 tahun.
"Kamu
tau darimana? Kali aja ga bener." ucapku tak percaya.
Aneh saja, pak Joko masih cukup muda
untuk memimpin perusahaan ini, kenapa malah digantikan anaknya.
"Dari
teman-teman yang lainlah."
"Aku belum percaya, tapi kita
lihat besok sajalah." ucapku sambil menghabiskan makananku.
Waktu berlalu, keesokan paginya kami
semua berkumpul di lobi perusahaan. Seperti kata Ratna semalam bahwa pak Joko
akan digantikan oleh anaknya itu benar dan sekarang Pak Joko dengan seorang
pria bermasker berdiri disampingnya. Namun, ketika pria bermasker itu membuka
maskernya, aku terkejut.
"Zaidan."
batinku.
Mau tau
siapa dia? Dia adalah pria yang aku sukai ketika SMA dulu, dan rasa suka itu
masih ada sampai sekarang.
"Zah,
itu bukan nya laki laki-laki yang kamu suka dulu ya?" tanya Ratna
berbisik.
"Iya."
ucapku berbisik juga.
Takut mereka
dengar.
Akhirnya setelah acara perkenalan
selesai,Pak Joko mengumumkan bahwa dia akan digantikan oleh anaknya, kami pun
bubar dan mulai bekerja seperti biasa.
"Zah,
kamu dipanggil Pak Zaidan tuh ke ruangannya." ucap Dimas.
Aku kembali
terkejut ketika Dimas, sekretaris Pak Joko dulu datang dan memanggilku untuk
menemui Pak Zaidan.
"Mau
ngapain ya pak?" tanyaku heran.
Ratna pun
hanya bisa diam memandang kami.
"Gatau,
kamu kesana aja gih."
Akupun berjalan keruangan Pak Joko
dulu yang sekarang sudah ditempati oleh Zaidan.
Sambil mengetok
pintu, aku berujar, "Permisi pak, ini saya Zahara. Boleh saya masuk?"
"Masuk."
ucap suara dari dalam.
Membuka pintu, akupun masuk dan
melihat Zaidan duduk di kursi sambil berkutat dengan berkas-berkasnya.
"Ada
apa ya pak?" tanyaku sambil menunduk.
Mendengar
suaraku, dia pun mendongak melihatku.
"Hai.
Apa kabar?"
Apa-apaan
itu? Pertanyaan ku malah dibalas dengan pertanyaan.
"H-hai,
baik Pak." Tak urung, aku pun akhirnya membalas sapaannya.
"Gausah
panggil Pak, kayak sama siapa aja. Duduk dulu sini."
Akupun
duduk, tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih."
Lama kami terdiam dengan suasana
canggung, sampai akhirnya Zaidan memecahkan kesunyian itu.
"Zah,
mungkin ini terlambat, dan aku cukup bersyukur ternyata kita masih bertemu
kembali. Aku mau jujur sama kamu."
"Maksudnya?"
tanyaku keheranan.
"Aku
suka sama kamu."
Terkejut.
Itu yang aku rasakan.
"Hah?"
Hufftt.
Zaidan menghela nafas.
"Sebenarnya, mulai dari SMA aku
sudah menyukai mu. Dan kamu tau kenapa aku selalu bermain bola dan pulang
terlambat sepulang sekolah? Itu karena aku ingin melihat mu yang sedang
menunggu jemputan."
Aku terdiam.
Menunduk. Memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut Zaidan. Aku masih tidak
menyangka bahwa Zidan ternyata juga menyukai ku. Jadi, rasa cintaku tidak
bertepuk sebelah tangan kan?
"J-jadi
k-kamu juga menyukaiku?" ucapku terbata.
"Iya.
Jadi, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?"
Lagi dan lagi aku dibuat terkejut
oleh perkataan nya. Aku bimbang. Walaupun aku masih memiliki perasaan
kepadanya, bukan kah ini terlalu cepat? Apalagi kami baru pertama kali bertemu
setelah 5 tahun lamanya tidah berjumpa.
"Kalau
kamu masih ragu, gapapa. Aku bakal nunggu kamu kok. Kita temenan dulu, untuk
saling mendekatkan diri." ujar
Zaidan lagi.
"Iya."
ucapku.
Flashback
Off
"Nahh semenjak percakapan
singkat kami waktu itu, ayah dan ibu pun semakin dekat. Kami berpacaran. 2
tahun kemudian, kami pun memutuskan untuk menikah dan membangun rumah tangga
lalu lahirlah kalian anak-anak ibu yang super cantik." ucapku mengakhiri cerita.
"Lah
sudah tidur ternyata." gumamku.
Tamat
BIONARASI
Grace Christine
Malau. Kelahiran P. Siantar tahun 2004. Tercatat sebagai siswa di SMAN 1 Purba.
Domisili Tigarunggu, Kec. Purba.
Terimakasih ❤️

Tidak ada komentar:
Posting Komentar