Karya: Lidia Ayu Sinaga
Aku masih ingat saat menghirup udara
sejuk di desa kecil itu. Desa itu berada di sebuah pedalaman dan di sepanjang
jalannya di penuhi pohon-pohon rindang. Saat berjalan di sepanjang jalan kita seakan
di sambut oleh pepohonan yang melambai-lambai di hembus oleh angin. Desa itu
adalah tempat tinggal temanku, Nina. Banyak pengalaman yang kami dapatkan saat
berkunjung ke rumah Nina bersama empat orang temanku.
Liburan sekolah akhir semester pun telah tiba, ini waktu yang di tunggu-tunggu. Kami berencana menginap di rumah Nina, sebab kedua orang tuanya sedang ke suatu acara dalam satu Minggu ini. Rumah Nina cukup jauh dari rumahku,tapi kami bertekad membawa sepeda motor.Tidak lama dari itu kami pun sampai di rumah Nina. Rumahnya sangat sederhana terbuat dari papan yang disusun rapi dan bunga-bunga indah yang menghiasi halaman rumah itu.
Malam pun tiba, kami membuat rencana
ingin pergi ke sungai yang pernah di ceritakan Nina kepada kami dan pergi
menaiki bukit-bukit untuk melihat pemandangan indah lainnya.
"Wah
aku tidak sabar untuk berpetualang besok," ucap Eva semangat.
"Iya,udah
lama kita tidak berpetualang," ucap Refa.
Kami semua pun bergegas tidur
dimalam itu, padahal biasanya aku tidur selalu larut malam. Tidak terasa suara alarm
berdering sangat keras sehingga membangunkan kami semua. Kami bergegas
beres-beres dan sarapan pagi bersama. Aku tidak sabar pergi ke sungai itu dan
berenang disana,aku sudah membayangkan bagaimana keindahannya.Kami meninggalkan
sepeda motor kami dirumah lalu kami pergi berjalan kaki. Jalan kesana sangat
licin dan di dipenuhi tumbuhan berduri, tetapi kami tidak menghiraukannya. Tidak
beberapa lama kemudian kami sampai disana.
"Wahh
indah sekali!" ujarku sangat terpukau.
"Yuk
foto bareng."
Kami pun berfoto bersama
bergantian sampai-sampai penyimpanan telepon kami hampir penuh, tetapi Lia
tidak suka berfoto. Lia lebih suka menatap pemandangan indah itu saja dan ia
bersiap-siap untuk berenang. Saat asik berfoto bersama yang lain, terdengar
suara minta tolong dari arah sungai ternyata itu suara Lia.
"Tolong!"
teriak Lia panik.
"Aku
tidak bisa berenang," ujar Nina.
Ternyata hanya aku yang bisa
berenang di antar teman-temanku. Akupun bergegas melompat ke dalam sungai, aku
terus mengayunkan kaki dan tanganku secara cepat mengikuti arus sungai yang
luas itu. Lia terus memanggil namaku, saat aku melihat sekilas ke belakang teman-temanku yang tadi
tidak terlihat lagi dikarenakan kami sudah berenang terlalu jauh. Beruntungnya
Lia masih bisa mengangkat kepalanya ke atas permukaan air sehingga masih bisa
terselamatkan. Jarak aku dan Lia cukup jauh namun masih terlihat, akupun terus
berusaha berenang. Setelah beberapa lama aku meraih tangannya dan membawanya ke
tepi sungai. Lia pun menangis karena ia kira tidak akan selamat lagi dan aku
menenangkannya.
Terdengar suara burung berkicauan
dan kami sadar bahwa kami telah tersesat di hutan belantara tersebut. Hutannya cukup
gelap karena di penuhi pohon-pohon rindang. Pakaian kami basah, kami berdua
tidak tau harus berbuat apa. Suasana disana sangat menakutkan dan kami tidak punya
apa-apa.
"Lidia,
gimana ini aku takut sekali."
"Tenanglah
kita pasti bisa keluar dari tempat ini."
Aku berusaha menenangkan Lia walaupun
aku juga sebenarnya takut, tetapi kami harus terus berjalan mengikuti arus sungai itu. Sudah
beberapa lama kami menelusuri jalan itu tapi sepertinya kami kembali lagi di
tempat yang semula. Aku sangat prustasi sekali. Hari semakin gelap dan kami
memasang apa menggunakan percikan batu dan akhirnya berhasil.
"Syukurlah,
masih ada harapan." ujarku sedikit lega.
"Apa
itu lid dibelakang mu."
Aku menoleh ke arah belakang namun aku tidak
menemukan apa-apa.
"Aduh
jangan nakut-nakutin dong, nggk ada apa-apa dibelakang aku mungkin kamu salah
lihat."
"Aku
beneran lihat dibelakang mu ada seseorang lewat."
"Heh,
mungkin kamu karena kecapekan,udahlah kita tidur aja dulu disini."
Kami pun tidur di bawah pohon
besar itu dengan beralaskan daun-daun yang kami kumpulkan sebelumnya. Tak terasa
pagi pun tiba, kami melanjutkan perjalanan kami. Banyak sekali
rintangan-rintangan yang kami hadapi tetapi kami tidak boleh menyerah begitu
saja. Di sepanjang jalan aku merasa seperti ada yang mengawasi kami tapi aku tidak
melihat kejanggalan.
Siang hari yang melelahkan kami
melihat sebuah pohon jambu di tengah-tengah hutan, kami pun bergegas memanjatnya
dan memakannya sangat rakus karena kelaparan. Walaupun siang terasa sangat
gelap di bawah pohon-pohon besar itu kami membawa kayu sebagai alat kami jika
ada hewan-hewan buas menyerang. Saat kami memakan buah tersebut, terdengar
suara batuk, sepertinya suara seorang Kakek tua. Kami menghampiri arah suara
dengan sangat hati-hati dan benar saja itu adalah seorang Kakek paruh baya yang
sedang mengawasi kami sepanjang jalan.
"Astaga
kakek!" ujarku terkejut.
"Apa
yang kakek lakukan di hutan belantara seperti ini?"
Sang kakek seperti ketakutan dan
kebingungan tetapi aku terus bertanya kepada kakek tersebut, namun sang kakek tetap
diam dan kebingungan. Aku dan Lia pergi mencari jalan pulang dan membawa kakek
tersebut bersama kami sepertinya kakek tersebut sudah pikun. Setelah beberapa
lama sang kakek akhirnya berbicara kepada kami berdua.
"Apa
yang kalian lakukan di hutan ini cu?"
"Wah
akhirnya, kami tersesat kek dan tidak tau arah jalan pulang ke desa Huta Bayu ."
"Ooh
kalau mau pulang ke desa itu,bukan arah sini cu, seharusnya arah sana." ujar
kakek sambil menunjuk arah ke belakang.
Akan tetapi saat kami bertanya
kembali kepada kakek tersebut dan ia kembali kebingungan, terpaksa kami harus
berjalan terus tanpa arah tujuan. Tak terasa kami sudah 4 hari tersesat di
hutan tersebut dengan makanan yang seadanya. Aku sangat takut saat melihat
bayangan-bayangan seperti ada yang lewat. Tiba-tiba saat malam yang hening itu sang
kakek pergi sebentar untuk membuang air kecil dan kami lanjut tidur. Saat pagi
hari aku tidak menemukan Lia di dekatku dan
sang kakek tersebut.Aku sangat ketakutan aku terus memanggil mereka sambil
menangis ketakutan. Walaupun begitu aku terus berusaha mencari mereka dan saat
mencari mereka aku melihat sebuah jalan keluar dan itu adalah jalan menuju permukiman
warga. Aku berlari walaupun di seluruh tubuhku dipenuhi dengan luka-luka.
Sesampai di desa itu aku melihat
beberapa orang dan meminta bantuan kepada mereka bahwa temanku tersesat di di
dalam hutan tersebut, namun mereka berlari ketakutan. Aku tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi. Tidak ada satupun warga yang mau membantu ku dan akhirnya
aku pergi kedalam hutan tersebut sendir dengan membuat tanda. Aku berdoa kepada
Sang Pencipta agar kami semua dapat keluar dengan selamat.
Di bawah sinar cahaya matahari
sedikit di tutupi oleh pepohonan itu aku terbaring lemas dan tidak berdaya, sepertinya
aku tidak punya harapan hidup lagi. Di saat aku ingin mengakhiri hidupku aku
mendengar suara memanggil namaku.
"Lidiaaaa!"
suara teriakan warga memanggil namaku.
"Kamu
dimana?"
Aku mendengar suara warga
memanggil dan ku dengar suara teman-teman ku dari kejauhan. Akupun langsung bangkit
dan berteriak agar mereka mendengarnya. Setelah beberapa saat mereka
menemukanku penuh luka.Aku melihat Lia dan Sang kakek bersama mereka. wargapun membawa
ku pulang. Aku menceritakan kepada mereka bahwa aku menemukan sebuah desa di
tengah hutan.
"Tidak
ada desa selain desa ini di tengah hutan ini nak," ujar seorang Kakek berjenggot
panjang.
"Betul
sekali aku sudah beberapa kali keluar masuk hutan ini." ujar seorang bapak.
Aku pun terkejut mendengarkan apa
yang telah mereka katakan. Aku tidak tahu apa yang aku lihat itu benar atau
tidak, entahlah yang aku pikirkan sekarang hanyalah keselamatan ku. Setelah
kejadian itu aku dan empat temanku pulang kerumah masing-masing. Aku tidak bisa
melupakan kejadian mengerikan tersebut dan selalu terbayang-bayang dalam
pikiranku.
Penulis dari SMA Negeri
1 Purba
Kelas XII IPA 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar