Jumat, 05 November 2021

TERSESAT

 


 Karya: Lidia Ayu Sinaga

 

Aku masih ingat saat menghirup udara sejuk di desa kecil itu. Desa itu berada di sebuah pedalaman dan di sepanjang jalannya di penuhi pohon-pohon rindang. Saat berjalan di sepanjang jalan kita seakan di sambut oleh pepohonan yang melambai-lambai di hembus oleh angin. Desa itu adalah tempat tinggal temanku, Nina. Banyak pengalaman yang kami dapatkan saat berkunjung ke rumah Nina bersama empat orang temanku.

Liburan sekolah akhir semester pun telah tiba, ini waktu yang di tunggu-tunggu. Kami berencana menginap di rumah Nina, sebab kedua orang tuanya sedang ke suatu acara dalam satu Minggu ini. Rumah Nina cukup jauh dari rumahku,tapi kami bertekad membawa sepeda motor.Tidak lama dari  itu kami pun sampai di rumah Nina. Rumahnya sangat sederhana terbuat dari papan yang disusun rapi dan bunga-bunga indah yang menghiasi halaman rumah itu.

Malam pun tiba, kami membuat rencana ingin pergi ke sungai yang pernah di ceritakan Nina kepada kami dan pergi menaiki bukit-bukit untuk melihat pemandangan indah lainnya.

"Wah aku tidak sabar untuk berpetualang besok," ucap Eva semangat.

"Iya,udah lama kita tidak berpetualang," ucap Refa.

Kami semua pun bergegas tidur dimalam itu, padahal biasanya aku tidur selalu larut malam. Tidak terasa suara alarm berdering sangat keras sehingga membangunkan kami semua. Kami bergegas beres-beres dan sarapan pagi bersama. Aku tidak sabar pergi ke sungai itu dan berenang disana,aku sudah membayangkan bagaimana keindahannya.Kami meninggalkan sepeda motor kami dirumah lalu kami pergi berjalan kaki. Jalan kesana sangat licin dan di dipenuhi tumbuhan berduri, tetapi kami tidak menghiraukannya. Tidak beberapa lama kemudian kami sampai disana.

"Wahh indah sekali!" ujarku sangat terpukau.

"Yuk foto bareng."

Kami pun berfoto bersama bergantian sampai-sampai penyimpanan telepon kami hampir penuh, tetapi Lia tidak suka berfoto. Lia lebih suka menatap pemandangan indah itu saja dan ia bersiap-siap untuk berenang. Saat asik berfoto bersama yang lain, terdengar suara minta tolong dari arah sungai ternyata itu suara Lia.

"Tolong!" teriak Lia panik.

"Aku tidak bisa berenang," ujar Nina.

Ternyata hanya aku yang bisa berenang di antar teman-temanku. Akupun bergegas melompat ke dalam sungai, aku terus mengayunkan kaki dan tanganku secara cepat mengikuti arus sungai yang luas itu. Lia terus memanggil namaku, saat aku melihat  sekilas ke belakang teman-temanku yang tadi tidak terlihat lagi dikarenakan kami sudah berenang terlalu jauh. Beruntungnya Lia masih bisa mengangkat kepalanya ke atas permukaan air sehingga masih bisa terselamatkan. Jarak aku dan Lia cukup jauh namun masih terlihat, akupun terus berusaha berenang. Setelah beberapa lama aku meraih tangannya dan membawanya ke tepi sungai. Lia pun menangis karena ia kira tidak akan selamat lagi dan aku menenangkannya.

Terdengar suara burung berkicauan dan kami sadar bahwa kami telah tersesat di hutan belantara tersebut. Hutannya cukup gelap karena di penuhi pohon-pohon rindang. Pakaian kami basah, kami berdua tidak tau harus berbuat apa. Suasana disana sangat menakutkan dan kami tidak punya apa-apa.

"Lidia, gimana ini aku takut sekali."

"Tenanglah kita pasti bisa keluar dari tempat ini."

Aku berusaha menenangkan Lia walaupun aku juga sebenarnya takut, tetapi kami harus  terus berjalan mengikuti arus sungai itu. Sudah beberapa lama kami menelusuri jalan itu tapi sepertinya kami kembali lagi di tempat yang semula. Aku sangat prustasi sekali. Hari semakin gelap dan kami memasang apa menggunakan percikan batu dan akhirnya berhasil.

"Syukurlah, masih ada harapan." ujarku sedikit lega.

"Apa itu lid dibelakang mu."

  Aku menoleh ke arah belakang namun aku tidak menemukan apa-apa.

"Aduh jangan nakut-nakutin dong, nggk ada apa-apa dibelakang aku mungkin kamu salah lihat."

"Aku beneran lihat dibelakang mu ada seseorang lewat."

"Heh, mungkin kamu karena kecapekan,udahlah kita tidur aja dulu disini."

Kami pun tidur di bawah pohon besar itu dengan beralaskan daun-daun yang kami kumpulkan sebelumnya. Tak terasa pagi pun tiba, kami melanjutkan perjalanan kami. Banyak sekali rintangan-rintangan yang kami hadapi tetapi kami tidak boleh menyerah begitu saja. Di sepanjang jalan aku merasa seperti ada yang mengawasi kami tapi aku tidak melihat kejanggalan.

Siang hari yang melelahkan kami melihat sebuah pohon jambu di tengah-tengah hutan, kami pun bergegas memanjatnya dan memakannya sangat rakus karena kelaparan. Walaupun siang terasa sangat gelap di bawah pohon-pohon besar itu kami membawa kayu sebagai alat kami jika ada hewan-hewan buas menyerang. Saat kami memakan buah tersebut, terdengar suara batuk, sepertinya suara seorang Kakek tua. Kami menghampiri arah suara dengan sangat hati-hati dan benar saja itu adalah seorang Kakek paruh baya yang sedang mengawasi kami sepanjang jalan.

"Astaga kakek!" ujarku terkejut.

"Apa yang kakek lakukan di hutan belantara seperti ini?"

Sang kakek seperti ketakutan dan kebingungan tetapi aku terus bertanya kepada kakek tersebut, namun sang kakek tetap diam dan kebingungan. Aku dan Lia pergi mencari jalan pulang dan membawa kakek tersebut bersama kami sepertinya kakek tersebut sudah pikun. Setelah beberapa lama sang kakek akhirnya berbicara kepada kami berdua.

"Apa yang kalian lakukan di hutan ini cu?"

"Wah akhirnya, kami tersesat kek dan tidak tau arah jalan pulang ke desa Huta Bayu ."

"Ooh kalau mau pulang ke desa itu,bukan arah sini cu, seharusnya arah sana." ujar kakek sambil menunjuk arah ke belakang.

Akan tetapi saat kami bertanya kembali kepada kakek tersebut dan ia kembali kebingungan, terpaksa kami harus berjalan terus tanpa arah tujuan. Tak terasa kami sudah 4 hari tersesat di hutan tersebut dengan makanan yang seadanya. Aku sangat takut saat melihat bayangan-bayangan seperti ada yang lewat. Tiba-tiba saat malam yang hening itu sang kakek pergi sebentar untuk membuang air kecil dan kami lanjut tidur. Saat pagi hari aku tidak  menemukan Lia di dekatku dan sang kakek tersebut.Aku sangat ketakutan aku terus memanggil mereka sambil menangis ketakutan. Walaupun begitu aku terus berusaha mencari mereka dan saat mencari mereka aku melihat sebuah jalan keluar dan itu adalah jalan menuju permukiman warga. Aku berlari walaupun di seluruh tubuhku dipenuhi dengan luka-luka.

Sesampai di desa itu aku melihat beberapa orang dan meminta bantuan kepada mereka bahwa temanku tersesat di di dalam hutan tersebut, namun mereka berlari ketakutan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada satupun warga yang mau membantu ku dan akhirnya aku pergi kedalam hutan tersebut sendir dengan membuat tanda. Aku berdoa kepada Sang Pencipta agar kami semua dapat keluar dengan selamat.

Di bawah sinar cahaya matahari sedikit di tutupi oleh pepohonan itu aku terbaring lemas dan tidak berdaya, sepertinya aku tidak punya harapan hidup lagi. Di saat aku ingin mengakhiri hidupku aku mendengar suara memanggil namaku.

"Lidiaaaa!" suara teriakan warga memanggil namaku.

"Kamu dimana?"

Aku mendengar suara warga memanggil dan ku dengar suara teman-teman ku dari kejauhan. Akupun langsung bangkit dan berteriak agar mereka mendengarnya. Setelah beberapa saat mereka menemukanku penuh luka.Aku melihat Lia dan Sang kakek bersama mereka. wargapun membawa ku pulang. Aku menceritakan kepada mereka bahwa aku menemukan sebuah desa di tengah hutan.

"Tidak ada desa selain desa ini di tengah hutan ini nak," ujar seorang Kakek berjenggot panjang.

"Betul sekali aku sudah beberapa kali keluar masuk hutan ini." ujar seorang bapak.

Aku pun terkejut mendengarkan apa yang telah mereka katakan. Aku tidak tahu apa yang aku lihat itu benar atau tidak, entahlah yang aku pikirkan sekarang hanyalah keselamatan ku. Setelah kejadian itu aku dan empat temanku pulang kerumah masing-masing. Aku tidak bisa melupakan kejadian mengerikan tersebut dan selalu terbayang-bayang dalam pikiranku.

 

 

            Penulis dari SMA Negeri 1 Purba

Kelas XII IPA  2021          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...