Jumat, 05 November 2021

Jerit Payah Seorang Gadis untuk Mencapai Sarjana



 By: Adeliani Purba

 

        Seorang gadis ini memiliki impian untuk mencapai gelar Sarjana. Gadis ini bernama Alya, dia anak semata wayang, dan dia hanya mempunyai kedua orang tuanya itu pun orang tuanya udah tua, Sekarang Alya sedang menduduki bangku SMA.

        Dengan adanya niat, Alya tak pernah mengeluh tentang masalah yg pernah dihadapi dalam belajar, Ia terus berjuang  dan belajar dengan giat sehingga Ia memperoleh kejuaraan di kelasnya namun di sisi lain, temannya tak menyukai dia. Terkadang Alya sering di hina dan dijuluki sebagai cewek caper dikelasny namun dia tidak peduli dengan omongan teman-temannya.

      Burrrrrrrr, pur-pak, pur-pak, angin pun berhembus kencang dan menghancuri rumah-rumah warga termasuk rumah Alya. Pulang dari sekolah seorang gadis ini terkejut melihat rumahnya yang hancur dan berantakan.

          "Ya Tuhan kenapa nasib keluargaku harus begini?" teriak seorang gadis ini sambil menangis.       

       Tak satu pun temanny peduli dengan musibah yang menghampiri keluargany. Hari berlalu, seorang warga berpartisipasi untuk memperbaiki rumah si Alya.

    Seorang gadis ini bernama ternyata memiliki tabungan untuk biaya sekolahnya. Namun uang tabungannya ini harus habis untuk memperbaiki rumah nya kembli. Tak Di duga uang seorang gadis ini mampu memenuhi dan memperbaiki rumahnya walaupun rumah itu sederhana.

     Seiringnya berjalannya waktu ternyata dia tak lupa belajar, dia tetap mempunyai semangat tinggi untuk belajar. Dengan adanya musibah itu, Alya semakin yakin dengan impiannya ini dapat merubah nasib keluargany.   Uhhuk, uhhuk batuk bapaknya kumat dan membuat Alya khawatir dengan kondisi bapaknnya sekarang. Alya bergegas membawa bapaknya ke klinik terdekat.

   "Aku tak punya uang lagi untuk menebus obatnya ayah." kata Alya Kepada ibunya.

  "Ga usah khawatir nak, ibu masih punya tabungan." kata ibu.

  Seorang gadis ini masih sempat-sempatnya belajar dalam kondisi yang sangat menghiraukan. Dia tetap mengwujudkan cita-citanya walaupun kondisi ekonomi mereka belum stabil.

      Tak diduga, bapaknya meninggal dunia. TetesanAir mata kembali membasahi pipinya.  Kini Alya hanya punya ibu. Ibunya selalu memberi motivasi untuk anaknya supaya Alya tidak terbeban dengan musibah yang telah menghampiri keluarganya.

     Kini Alya menduduki di bangku kelas 3, ujian-ujian sudah di depan mata. Semangat belajar nya tetap ada malahan semakin ngelunjak demi meraih impiannya itu. Dia berusaha belajar semaksimal kemampuannya tanpa adanya beban musibah-musibah yang telah terjadi. Ibunya tak pernah lupa memberi motivasi belajar demi si buah hatinya. Ujian-ujian kini udah dihadapi si Alya tak disangka usaha tak menghianati hasil. Semua ujian-ujiannya bernialai bagus, dan membuat ibunya bangga dengan hasil ujiannya.

     Kini pendaftaran SNMPTN telah dibuka, si Alya bergegas membereskan berkas-berkas dan langsung ngasih berkas itu ke gurunya supaya dia tidak ketinggalan mendaftar. Kini sukacita itu segera menghampiri seorang gadis itu.

     Akhirnya Alya lulus di tingkat SMA dan dia akan melanjuti sekolahny lagi dan dia tinggal nunggu pengumuman SNMPTN itu.  Ternyata hasilnya membuat semangat Alya ngelunjak dan akhirnya dia lolos.

      Hari berlalu tahun berganti, seorang gadis ini kini menjadi mahasiswa di Universitas Medan, ia mencoba ujian-ujian untuk dapat beasiswa, dan akhirnya dia mendapatkan beasiswa itu. Dengan adanya beasiswa ini, ekonomi mereka mulai bangkit dan ibuny terharu dengan putri semata wayangny ini. Putrinya tidak pernah menyerah dalam menghadapi masalah.

    Seiring berjalannya waktu si Alya sudah memasuki menyusun skripsi. Dia berusaha semaksimal kemampuannya agar impiannya tercapai. Dalam menyusun skripsi banyak cobaaan yang akan lewati, namun dia tetap berusaha. Dan akhirnya seorang gadis ini tinggal menunggu waktu yang tepat untuk wisuda.

    Ibunya kini merasa bahagia dengan putrinya, ternyata putrinya itu orang yang mampu melewati masalah, dan ibunya tak pernah lupa kepada sang pencipta, kini ekonomi mereka sudah membaik.

     Akhirnya tepat tanggal 20 oktober 2010, impian seorang gadis itu tercapai, dan ia wisuda juga. Banyak musibah yang telah dihadapi seorang gadis ini, namun dia mampu melewati cobaan-cobaan yang sadis itu dan akhirnya dia mempunyai gelar S.Pd dan Ipk tertinggi dan lulusan tercepat.

     Namun dihari itu kebahagian nya menjadi tangisan darah bagi dia. Dimana seorang gadis ini berharap ibunya datang kewisudanya tetapi ibunya tak bisa datang karna beliau sedang berbaring di rumah. Tak lama kemudian, Alya  mendapat kabar duka cita dari tetanggany bahwa ibunya telah meninggal. Lalu Alya tak menyangka secepat itu ibunya meninggalkan dirinya disaat hari kebahagiannya tiba.

 

  Penulis dari SMAN 1 Purba

                                                                               Kelas Xll

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...