Sabtu, 27 November 2021

BELLA REMAJA

 


Maria Lingga

 

    Aku menjalani hariku setiap hari aku menikmati cerita yang selalu bertambah setiap harinya namun aku tak bisa menjelaskan seperti apa hari hari yang ku nikmati itu. Senin itu aku berangkat sekolah ditemani pagi yang cerah dengan matahari yang indah, menyinari ceritaku setiap hari.

"De mau kesekolah kah? ayo naik!" ucap seorang tukang beccak.

        "Ohh iya bang," ucapku sambil menaiki beccaknya dengan senyuman tipis.

        "Mau langsung diantar ke dalam de?"

        "Sampe sini aja bang, makasih." balasku sambil  berjalan menuju lapangan.

     Aku sering bercerita dengan diri sendiri. berbicara di depan kaca kadang memuji diri, membentak diri sendiri, ketawa sendiri bahkan menangis. saat mulutku tertutup pun aku masih bercerita dengan diri sendiri sampai aku lupa kalo aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Bukanyya tidak ingin bercerita dengan orang lain tapi menurutku sulit untuk memercayai manusia. Pernah suatu waktu aku minta sama tuhan agar di berikan satu saja temanku untuk bercerita tentang semua hal yang kujalani, setiap cerita yang bertambah setiap hari, setiap kesenangan dan kesusahan yang datang bergantian setiap harinya. Seminggu setelah aku minta sama tuhan tidak ada satupun orang yang benar - benar bisa ku percaya. Sampai aku disadarkan sama satu mimpi.

     "Kenapa kamu harus lelah mencari tempat untuk bercerita? bukankah aku ada untukmu aku mendengarkan semua ceritamu." ucap seseorang dalam mimpiku.

     Aku terbangun dari tidurku aku duduk terdiam beberapa menit rasanya seperti disadarkan bahwa tidak ada orang yang benar-benar peduli dengan ceritamu. sejak hari itu, aku selalu bercerita dengan tuhan, sampai hari ini pun aku tidak pernah bercerita perihal dalam hidupku pada siapapun karna curhat sama tuhan adalah yang ternyaman kalian harus mencobanya.

Aku tidak bisa berbicara dengan kalian semua tapi dalam buku ini aku hanya ingin berbagi cerita, cerita yang tak pernah ku jelaskan pada manusia manapun dan tidak akan pernah ku jelaskan, aku menuliska nya di sini agar aku bisa membaca kembali kenangan - kenangan, cerita hidup ku ketika remaja.

       Saat itu aku dan teman-temanku berbincang-bincang dikelas kami membahas tentang bagaimana kami setelah lulus sekolah menengah pertama.

"Guyss rencana kalian mau lanjut kemana kalo udah lulus nanti ?" tanya Angel

         "Kalo aku sih papa sama mama aku bebas ya aku mau pilih dimana tapi aku disaranin buat masuk asrama, bislasalah biar lebih teratur hidupnya hahah!" balas Marica

"Kalo aku sih kata orangtua aku di kota ini aja, nanti kalo kejauhan jarang ketemu jadi kangeen." jawab Melva dengan mentel.

"Aku pengennya sih jauh ya tapi aku belum siap buat jauh dari orang tua." balas Rina

 "Aku pengen ke SMA plus dan kemaren udah ngomong Sama orangtua aku katanya boleh, apalagi aku anak pertama guyss harus bisa banggain ortu." Balas Angle dengan semangat.

”Aku samaan sih sama rina"  ucap Kristin sambil peluk Rina.

"Kamu gimana bell?" tanya Marika sambil merapikan rambutku yang berantakan.

" Aku di sini aja!" jawabku dengan senyuman dan pikiran kosong.

Sepulang sekolah aku duduk di depan kaca dan aku mulai bercerita Tentang bagaimana perasaan ku hari itu.

      Aku lupa bagaimana masa kecilku tapi aku iangat kalo ayahku tidak kembali kerumah kami selama 1 tahun. Suatu ketika dia pulang kerumah tapi ayah tidak lama dirumah ayah tinggal 2 bulan lalu pergi lagi datang lalu pergi tanpa permisi. saat itu aku masih berumur 8 tahun. ayahku pulang tidak memberikan uang pada ibuku tapi ketika ayah pergi ia meminta uang pada ibuku. Ayahku adalah ayah pemabuk dia akan mabuk setiap malam ketika dia dirumah. Tapi ibuku adalah ibu yang kuat ibu merawat aku, kakak, adik, dan abangku. Ibuku tidak banyak bicara aku bahkan tidak bisa menebak saat itu bagaimana ibuku, kenapa dia selalu menerima ayahku walau perannya hanya datang dan pergi tanpa memikirkan perasaan orang lain. Suatu hari ayahku pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Saat itu, mereka bertengkar

      "Memang enggak ada yang peduli sama bapak di rumah ini!" kata ayahku dengan keras

      "Pergi jika ingin pergi jangan membuat keributan disini!" balas ibuku lalu dia kembali tidur disampingku.

      " Oke bapak akan pergi dari sini!" balas ayahku sambil pergi meninggalkan rumah pada larut malam itu, dan tidak kembali sampai beberapa bulan. Aku menangis saat itu tapi tidak menangisi ayahku, melainkan aku menangis betapa kuatnya ibuku.

Ibu yang mendengar tangisanku mendiamkanku sambil mengatakan

      "Jangan nangis bel, kamu berdoa ya, berdoa untuk kita semua."

Aku hanya diam dan menahan suara tangisku tapi air mataku tidak bisa berhenti mengalir.Di situlah aku Sadar mengapa selama ini kaka perempuanku tidak pernah pulang kerumah. Kakak ku, dia adlah seorang yang kuat perempuan terkuat setelah ibuku. Kakakku membiayai hidupnya sendiri semenjak ia masuk sekolah menegah pertama sampai ia tamat SMA. Dia tidak banyak bicara ketika aku masuk sekolah menegah pertama aku dan kakakku sering bertemu dia sering nangis kalo cerita dan dia bilang dia sangat membenci ayah dan dewasanya kakak adalah dia tidak pernah mengajarkan kami membenci ayah. Sewaktu sekolah kakak sudah melakukan banyak pekerjaan demi membiayai sekolah sendiri. Dan sekarang dia  tidak kuliah karna dia pernah bilang sama aku

     Aku nggapapa  aku pengen cari uang kalo misalkan nanti ada kesempatan aku bakalan kuliah aku ngga pengen kalian ngerasain apa yang aku rasain.

     "Aku juga ngga akan kuliah aku bakalan nggagur dulu aku janji aku bakalan kuliah pake uang aku sediri." jawabku sambil nangis di pelukan kakakku.

     Abangku, abangku adalah abng yang kuat dan sebenarnya dia baik hanya karna kejadian dalam keluarga kami membuat Abang sering emosian dan tidak banyak bicara. Aku sering bermain dengannya. Dia putus sekolah di sekolah menengah pertama karna gurunya memukul wajahnya dengan sepatu guru itu sendiri hanya karna dia tertidur di kelas. Saat umurku 10 tahun abang pernah ingin mencabuli aku saat ibu sedang pesta, tapi hal itu tidak terjadi karna aku nangis sambil lari ke dalam kamar mandi dan menguncinya aku menagis sepanjang malam. Keesokan paginya abangku mengantarku kesekolah aku tidak bicara sedikitpun aku ketakutan sepanjang jalan. Saat abangku menjemput pulang sekolah sesampai dirumah aku tidak mau masuk kerumah aku nangis di depan pintu rumah lalu abang menghampiri aku lalu memelukku.

     "Abang minta maaf, abang salah pukul ini pukul abang Bel Abang khilaf abang jahat pukul ini kayu, jangan nagis Nang abang minta maaf," ucapnya nagis sambil memukuli tangannya dengan bambu yang di pegangnnya sampai berdarah

     "Udah abang jangan dipukul tangannya berdarah, Bela maafin Abang!" teriakku sambil membalut tangan yang berdarah dengan kain.

Aku tidak menceritakan hal ini ke siapapun. Dari hari itu abang selalu menyayangi dan menjaga aku dan kami berusaha melupakan kejadian itu. Dia sangat menjagaku dan aku tidak pernah percaya pada lelaki manapun sebelum aku mengujinya.

     Beberapa bulan kemudian saat kami tertidur pulas di malam yang dingin, ada orang mengetok pintu rumah kami. Ibu membuka pintu rumah dan ternyata yang ada di depan pintu adalah ayah yang datang dengan kepala yang dilumuri darah. Saat itu yang dirumah hanya aku mama dan klara adikku abng menginap di rumah teman. Ayah jatuh dilantai seakan seperti menghembuskan nafa terkahirnya.

     "Ma bawa kedeokter mak cepat!" ucapku sambil menangis

     "Jangan nangis Bel Sini Nang kita duduk disini doain bapak, apapun yang terjadi kita minta sama Tuhan." ucap mama sambi membalut kepala ayah yang berlumuran darah

     Setelah berdoa aku langsung jemput abang ke rumah temannya, sambil bisikin kalo ayah di rumah berlumuran darah. Abang langsung pinjam mobil lalu ayah dibawa ke kota tapi rumah sakit kota tidak sanggup karna darahmya terlalu banyak keluar sehingga harus di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Akhirnya ayah dirujuk ke rumah sakit tentara. Dan untungnya ayah masih bisa diselamatkan,Ayah mendapatkan beberapa jahitan dikepalanya. 5 hari di rumah sakit akhirnya ayah pulang. Semenjak kejadian itu ayah dan ibu berbaikan, mulai bicara satu sama lain. Tapi, itu hanya bertahan beberapa bulan. Ayah berulah lagi seperti biasanya. sampai akhirnya setelah 6 bulan pergi dia kembali lagi ke rumah dia mabuk tiap malam, main judi keadaan semakin memburuk.

     Tiba lah saat nya aku masuk SMP . Pertama masuk sekolah aku langsung kos dirumah keluarga agar biayanya lebih irit. Tapi ternyata aku menjadi babu di sana aku memberi ternak tiap pagi dan sore, keladang di siang hari.  Suatu hari ketika aku pulang sekolah anak laki - lakinya di rumah  dia sedang menonton porno setelah aku masuk rumah dia langsung mematikan televisi. Aku tidak memberitahukan hal ini ke siapapun kecuali kakakku, kakakku langsung menyuruhku pindah dari sana. Aku pura- pura tidak melihat apapun aku bergegas ke kamar ku lalu mengunci kamaar dan menyusun semua barangku lalu keesokan harinya aku bilang ke Bu kos pindah dengan alasan minim air. Kebetulan sudah seminggu air di sana mati. Akhirnya aku pindah tapi masih di rumah keluarga

     Saat dirumah keluarga yang kedua semuanya baik - baik saja sebelum kedatangan anaknya dari Jakarta sebeluma anaknya datang aku sering bercerita dengan tanteku dia sering cerita tentang anaknya yang sudah menikah dan dulu anaknya adalah anak yang sangat nakal. Namaun setelah ke hadiran anaknya semuanya berubah drastis.

     Suatu ketika tantekos ku tidak bisa tidur. Dia membersihkan lemari ruang tengah. Pagi hari sewaktu aku ingin pergi ke sekolah ia memanggilku

     "Bella ini apa? kamu nonton kaset seperti ini ya, kamu itu masih remaja Tante ngga mau tau kamu buang kaset ini." ucap tante sambil menunjukkan kaset porno.

     "Ha… bukan aku tante aku enggak pernah nyentuh lemari atau apapun dirumah ini!" jawabku dengan kebingungan

     "Halah kamu nggausa bohongi saya, jangan - jangan kamu sering bawa temen ya kerumah ini waktu saya di kebun." balasnya dengan lantang.

     "Saya tidak pernah menonton kaset itu dan tidak pernah memiliki itu , dan satu lagi tante saya tidak pernah membawa siapapun ke rumah Tante ini." jawabku menangis sambil pergi berangkat ke sekolah.

sepulang sekolah kaset itu diletak di meja makan, lalu aku memotong kaset itu lalu membuangnya. Setelah tante pulang dari kebun aku langsung menghampirinya

      "Tante ini teh manis." ucapku

     "Ohh ia letak disitu aja." balasnya

     "Tante bukan aku yang punya kaset itu, sumpah aku nggapernah sebodoh itu tante please percaya sama Bella, enggak ada orang yang pernah kerumah ini, tante bilang dulu anak tante nakal kan, bisa aja itu miliknya sewaktu muda atau mungkin sewaktu masa sekolah!" balasku dengan kesal.

     "Sudah tidak perlu di bahas lagi!"

     "Harus dibahas, karna aku bukan pemilik kaset itu, apa perlu tante kita panggil anak tante ke sini!" balasku semakin kesal.

     "Tidak perlu Bela, sudah lupakan." jawab Tante sambil minum teh.

Kejadian itupun terlupakan tanpa diketahui siapa pemilik kaset porno itu. Aku berbicara dengan tante setiap hari tapi tak seakrab biasanya. Bagaimana perasaanmu saat kami di tuduh melakukan sesuatu padah kamu tidak tahu apa apa? begitu juga perasaanku saat itu.

      Selama aku kos dirumah tante mama cuman dua kali ngunjungin aku. Selama 2 tahun bayangkan saja betapa nikmatnya alur hidupku saat itu.  Menerima raport saja ibu tidak bisa meluangkan waktunya. Aku meyakinkan guruku seolah-olah ibu ada urusan yang mendadak beitulah setiap kali aku menerima raport. Aku tidak pernah membenci ibu sama sekali karna aku mengerti bebannya yang berat. Aku hanya bisa bercerita dengan diriku sendiri dan  aku masih bertahan sampai saat itu.

      Sampai setelah 6 bulan aku pulang ke rumah karna aku membutuhkan uang untuk keperluan sekolah. Semua orang masih sama seperti biasanya. Aku hanya bisa menahan seolah - olah tidak terjadi apapa.

     "Ehhh kamu pulang." ucap mama yang masuk kerumah sepulang dari kebun.

     "Ohhh iya mak, ada keperluan sekolah jadi aku pulang, aku juga udah lama kan tidak pulang." Ucapku sambil memberikan mama secangkir teh manis.  Aku bercerita dengan ibu dengan segala senyuman palsu.

     Sembari tidur dimalam hari ayah ku pulang dari warung. Aku semakin tersenyum lebar seolah - olah aku bertemu dengan orang paling yang aku kagumi. Tapi nyatanya itu semua hanyalah topengku yang selalu menemaniku ketika aku berhadapan dengan banyak orang.

     "Ayah Minggu depan aku bawa uang di suruh sama guru buat keperluan sekolah sekalian buat bayar uang perayaan perpisah sekolah." ucapku kepada ayah sambil memberikan makanannya.

     "Kalian hanya bisa menyusahkan! Kalo kalian mau sekolah ya sekolah, kalo butuh duit jangan minta sama bapak. Kalo kalian enggak punya uang buat sekolah enggak usah sekolah!" balas Ayah dengan suara lantang.

     Semenjak kejadian itu aku tidak pernah pulang lagi sampai aku tamat sekolah menengah pertama. Aku menghasilkan uang dari hasil kerja sebagai tukang cuci dan gosok di kota. Aku hanya menghela nafas dan bercerita dengan diriku sendiri. Sampai akhirnya aku tamat SMP tanpa kepedulian ibu dan ayah. Aku tidak pernah membenci ibu karna aku mengerti bebannya. Aku kembali ke rumahku dan tingggal disana selama libur. Aku membantu ibu di kebun, aku menyaksikan ayah mabuk lagi. Tidak ada sedikitpun semangat dalam hidupku. Sampai sekolah tujuankupun aku tidak tahu.

      Aku terlambat mendaftar di SMA negeri kota akhirnya tidak di terima lagi dan aku masuk pilihan ke  dua di SMA purba. Aku tidak peduli dengan itu akhirnya aku dan Abang pergi ke purba untuk melakukan pendaftaran ulang. Aku masuk sekolah kos 6 bulan lalu pindah, karena saat itu aku dituduh mengambil hp ibu kos padahal tidak sama sekali. Akhirnya hp itu dapat di bawah kasur tidur ibu kos. Dengan gampangnya mulutnya ngomong " aku cuma bercanda kemarin " ucapnya dengan senyuman.    

     Hanya karna kesabaran yang kupunya lebih panjang bukan berarti aku semudah itu untuk melupakan dan mengulang seperti biasanya. Ketika aku baik berarti aku benar - benar untuk bersikap baik ketika kamu menginjak - injak kebaikanku aku bahkan akan membuat mu merasa menjadi orang yang paling bersalah didunia. Aku pindah ke rumah guru SMA. Aku diantar sama ibu dan itu terakhir kalinya ibu mengunjungi aku. Ibu selalu bilang " jaga diriya, karna kamu kuat Bella, kalo kita lagi dibawah harus sabar, jangan sombong. Jangan lupa berdoa ya. Aku tinggal sampai saat ini dua tahun. Dan sepertinya aku akan meninggalkan kos ini sampai tamat sekolah menengah atas. Sejak itu ibu tidak mengunjungi ku lagi sampai hari ini. Aku lagi - lagi hanya bercerita dengan diriku sendiri.

      Tahun baru kemarin, keluargaku berkumpul ayahku menangis dan meminta maaf kepada kami semua. Aku belajar untuk memaafkan semuanya, keluargaku lebih sering beribadah, dan sejak tahun 2020 aku melihat ayah dan ibu tertawa bersama untuk pertama kalinya. Sejak itulah ayah dan ibu baik - baik saja sampai saat ini.

Aku mendapatkan lingkungan pertemanan yang baik di masa SMA. Dan ayah menerima raport ku untuk pertama kalinya saat kenaikan kelas 11 . Aku merasa seperti aku adalah anak sekarang. Anak yang memiliki ayah. Dan aku juga mendapatkan bimbel online gratis saat itu. Teman - teman  siapapun kamu dimanapun kamu berada jika kamu tengah sedih peluklah dirimu sendiri. Aku hanya bisa memberi semangat lewat tulisan ini tanpa bisa menemani.

Ada banyak hal yang selalu sulit dijelaskan. Jangan pernah berhenti berharap kepada Tuhan, karna tuhanpun tidak pernah lelah memberkatimu. Aku banyak belajar dari kisah hidupku, selalu sabar dalam setiap hal yang mengecewakan hatiku. Dan tuhan menggantikan kekecewaan itu menjadi sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan

      Orang terdekatku bahkan berani membuat aku takut, sampai aku lupa pada mimpiku sendiri. Itulah yang kualami teman saat aku remaja fisik, tapi sesungguhnya aku adalah dewasa secara mental. Percaya lah teman akan ada saatnya dimana pelukan tuhan lebih terasa dari biasanya doa - doa yang kau kau langitkan dulu akan jatuh satu persatu dalam pangkuanmu. Terkadang tuhan menyelipkan sesuatu yang mengejutkan, melalui sesuatu yang menyakitkan.

      Tidak terhitung seberapa banyak air mata yang telah kutumpahkan, aku memiliki orang tua, saudara, keluarga bahkan teman namun mereka hanya ada namun mereka tidak benar - benar ada untukku. Sejak itupun aku tidak pernah meminta banyak , tidak menuntut dan tidak akan pernah berekspresi tinggi pada manusia

     Enam bulan lagi aku akan selesai di sekolah menengah atas. Aku  pernah berpikir saat aku melihat anak ibu kos yang kuliah, pergi diantar pulang pun dijemput dia hanya sibuk dikamarnya, lalu meminta uang kepada orangtuanya tanpa harus berpikir panjang. Terlintas dipikiranku, " dia kuliah untuk bekerja, sementara aku bekerja untuk kuliah. Dia butuh ilmu untuk uang sementara aku butuh uang untuk ilmu." Tapi aku sadar teman,  sesungguhnya merekapun merasakan kesulitan yang berat karna mereka harus bertanggung jawab atas pengorbanan orangtuanya, atas ekspektasi yang sudah di harapkan orangtuanya. Kita memiliki peran masing - masing di dunia ini. Dan ingat " Usaha di tangan kanan, doa ditangan kiri dan masa depan ditangan Tuhan".

 

Penulis Siswa SMA Negeri 1 Purba

     

 

    

    

    

    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...