Maria Lingga
Aku menjalani hariku setiap hari aku
menikmati cerita yang selalu bertambah setiap harinya namun aku tak bisa
menjelaskan seperti apa hari hari yang ku nikmati itu. Senin itu aku berangkat
sekolah ditemani pagi yang cerah dengan matahari yang indah, menyinari ceritaku
setiap hari.
"De mau kesekolah kah? ayo
naik!" ucap seorang tukang beccak.
"Ohh iya bang," ucapku sambil
menaiki beccaknya dengan senyuman tipis.
"Mau langsung diantar ke dalam
de?"
"Sampe sini aja bang, makasih." balasku sambil berjalan menuju lapangan.
Aku sering bercerita dengan diri sendiri.
berbicara di depan kaca kadang memuji diri, membentak diri sendiri, ketawa
sendiri bahkan menangis. saat mulutku tertutup pun aku masih bercerita dengan diri
sendiri sampai aku lupa kalo aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Bukanyya
tidak ingin bercerita dengan orang lain tapi menurutku sulit untuk memercayai
manusia. Pernah suatu waktu aku minta sama tuhan agar di berikan satu saja
temanku untuk bercerita tentang semua hal yang kujalani, setiap cerita yang
bertambah setiap hari, setiap kesenangan dan kesusahan yang datang bergantian
setiap harinya. Seminggu setelah aku minta sama tuhan tidak ada satupun orang
yang benar - benar bisa ku percaya. Sampai aku disadarkan sama satu mimpi.
"Kenapa kamu harus lelah mencari
tempat untuk bercerita? bukankah aku ada untukmu aku mendengarkan semua
ceritamu." ucap seseorang dalam mimpiku.
Aku terbangun dari tidurku aku duduk
terdiam beberapa menit rasanya seperti disadarkan bahwa tidak ada orang yang
benar-benar peduli dengan ceritamu. sejak hari itu, aku selalu bercerita dengan
tuhan, sampai hari ini pun aku tidak pernah bercerita perihal dalam hidupku
pada siapapun karna curhat sama tuhan adalah yang ternyaman kalian harus
mencobanya.
Aku tidak bisa berbicara dengan
kalian semua tapi dalam buku ini aku hanya ingin berbagi cerita, cerita yang
tak pernah ku jelaskan pada manusia manapun dan tidak akan pernah ku jelaskan,
aku menuliska nya di sini agar aku bisa membaca kembali kenangan - kenangan,
cerita hidup ku ketika remaja.
Saat itu aku dan teman-temanku
berbincang-bincang dikelas kami membahas tentang bagaimana kami setelah lulus
sekolah menengah pertama.
"Guyss rencana kalian mau lanjut
kemana kalo udah lulus nanti ?" tanya Angel
"Kalo aku sih papa sama mama aku
bebas ya aku mau pilih dimana tapi aku disaranin buat masuk asrama, bislasalah
biar lebih teratur hidupnya hahah!" balas Marica
"Kalo aku sih kata orangtua aku
di kota ini aja, nanti kalo kejauhan jarang ketemu jadi kangeen." jawab
Melva dengan mentel.
"Aku pengennya sih jauh ya tapi
aku belum siap buat jauh dari orang tua." balas Rina
"Aku pengen ke SMA plus dan kemaren udah
ngomong Sama orangtua aku katanya boleh, apalagi aku anak pertama guyss harus
bisa banggain ortu." Balas Angle dengan semangat.
”Aku samaan sih sama rina" ucap Kristin sambil peluk Rina.
"Kamu gimana bell?" tanya
Marika sambil merapikan rambutku yang berantakan.
" Aku di sini aja!" jawabku
dengan senyuman dan pikiran kosong.
Sepulang sekolah aku duduk di depan
kaca dan aku mulai bercerita Tentang bagaimana perasaan ku hari itu.
Aku lupa bagaimana masa kecilku tapi aku
iangat kalo ayahku tidak kembali kerumah kami selama 1 tahun. Suatu ketika dia
pulang kerumah tapi ayah tidak lama dirumah ayah tinggal 2 bulan lalu pergi
lagi datang lalu pergi tanpa permisi. saat itu aku masih berumur 8 tahun.
ayahku pulang tidak memberikan uang pada ibuku tapi ketika ayah pergi ia
meminta uang pada ibuku. Ayahku adalah ayah pemabuk dia akan mabuk setiap malam
ketika dia dirumah. Tapi ibuku adalah ibu yang kuat ibu merawat aku, kakak,
adik, dan abangku. Ibuku tidak banyak bicara aku bahkan tidak bisa menebak saat
itu bagaimana ibuku, kenapa dia selalu menerima ayahku walau perannya hanya
datang dan pergi tanpa memikirkan perasaan orang lain. Suatu hari ayahku pulang
larut malam dalam keadaan mabuk. Saat itu, mereka bertengkar
"Memang enggak ada yang peduli sama
bapak di rumah ini!" kata ayahku dengan keras
"Pergi jika ingin pergi jangan
membuat keributan disini!" balas ibuku lalu dia kembali tidur disampingku.
" Oke bapak akan pergi dari
sini!" balas ayahku sambil pergi meninggalkan rumah pada larut malam itu,
dan tidak kembali sampai beberapa bulan. Aku menangis saat itu tapi tidak
menangisi ayahku, melainkan aku menangis betapa kuatnya ibuku.
Ibu yang
mendengar tangisanku mendiamkanku sambil mengatakan
"Jangan nangis bel, kamu berdoa ya,
berdoa untuk kita semua."
Aku hanya diam dan menahan suara tangisku
tapi air mataku tidak bisa berhenti mengalir.Di situlah aku Sadar mengapa
selama ini kaka perempuanku tidak pernah pulang kerumah. Kakak ku, dia adlah
seorang yang kuat perempuan terkuat setelah ibuku. Kakakku membiayai hidupnya
sendiri semenjak ia masuk sekolah menegah pertama sampai ia tamat SMA. Dia
tidak banyak bicara ketika aku masuk sekolah menegah pertama aku dan kakakku
sering bertemu dia sering nangis kalo cerita dan dia bilang dia sangat membenci
ayah dan dewasanya kakak adalah dia tidak pernah mengajarkan kami membenci
ayah. Sewaktu sekolah kakak sudah melakukan banyak pekerjaan demi membiayai
sekolah sendiri. Dan sekarang dia tidak
kuliah karna dia pernah bilang sama aku
Aku nggapapa aku pengen cari uang kalo misalkan nanti ada
kesempatan aku bakalan kuliah aku ngga pengen kalian ngerasain apa yang aku
rasain.
"Aku juga ngga akan kuliah aku
bakalan nggagur dulu aku janji aku bakalan kuliah pake uang aku sediri."
jawabku sambil nangis di pelukan kakakku.
Abangku, abangku adalah abng yang kuat dan
sebenarnya dia baik hanya karna kejadian dalam keluarga kami membuat Abang
sering emosian dan tidak banyak bicara. Aku sering bermain dengannya. Dia putus
sekolah di sekolah menengah pertama karna gurunya memukul wajahnya dengan sepatu
guru itu sendiri hanya karna dia tertidur di kelas. Saat umurku 10 tahun abang
pernah ingin mencabuli aku saat ibu sedang pesta, tapi hal itu tidak terjadi
karna aku nangis sambil lari ke dalam kamar mandi dan menguncinya aku menagis
sepanjang malam. Keesokan paginya abangku mengantarku kesekolah aku tidak
bicara sedikitpun aku ketakutan sepanjang jalan. Saat abangku menjemput pulang
sekolah sesampai dirumah aku tidak mau masuk kerumah aku nangis di depan pintu
rumah lalu abang menghampiri aku lalu memelukku.
"Abang minta maaf, abang salah pukul ini
pukul abang Bel Abang khilaf abang jahat pukul ini kayu, jangan nagis Nang abang
minta maaf," ucapnya nagis sambil memukuli tangannya dengan bambu yang di
pegangnnya sampai berdarah
"Udah abang jangan dipukul tangannya
berdarah, Bela maafin Abang!" teriakku sambil membalut tangan yang
berdarah dengan kain.
Aku tidak
menceritakan hal ini ke siapapun. Dari hari itu abang selalu menyayangi dan
menjaga aku dan kami berusaha melupakan kejadian itu. Dia sangat menjagaku dan
aku tidak pernah percaya pada lelaki manapun sebelum aku mengujinya.
Beberapa bulan kemudian saat kami tertidur
pulas di malam yang dingin, ada orang mengetok pintu rumah kami. Ibu membuka
pintu rumah dan ternyata yang ada di depan pintu adalah ayah yang datang dengan
kepala yang dilumuri darah. Saat itu yang dirumah hanya aku mama dan klara
adikku abng menginap di rumah teman. Ayah jatuh dilantai seakan seperti
menghembuskan nafa terkahirnya.
"Ma bawa kedeokter mak cepat!"
ucapku sambil menangis
"Jangan nangis Bel Sini Nang kita
duduk disini doain bapak, apapun yang terjadi kita minta sama Tuhan." ucap
mama sambi membalut kepala ayah yang berlumuran darah
Setelah berdoa aku langsung jemput abang
ke rumah temannya, sambil bisikin kalo ayah di rumah berlumuran darah. Abang
langsung pinjam mobil lalu ayah dibawa ke kota tapi rumah sakit kota tidak
sanggup karna darahmya terlalu banyak keluar sehingga harus di rujuk ke rumah
sakit yang lebih besar. Akhirnya ayah dirujuk ke rumah sakit tentara. Dan
untungnya ayah masih bisa diselamatkan,Ayah mendapatkan beberapa jahitan
dikepalanya. 5 hari di rumah sakit akhirnya ayah pulang. Semenjak kejadian itu
ayah dan ibu berbaikan, mulai bicara satu sama lain. Tapi, itu hanya bertahan
beberapa bulan. Ayah berulah lagi seperti biasanya. sampai akhirnya setelah 6
bulan pergi dia kembali lagi ke rumah dia mabuk tiap malam, main judi keadaan
semakin memburuk.
Tiba lah saat nya aku masuk SMP . Pertama
masuk sekolah aku langsung kos dirumah keluarga agar biayanya lebih irit. Tapi
ternyata aku menjadi babu di sana aku memberi ternak tiap pagi dan sore,
keladang di siang hari. Suatu hari
ketika aku pulang sekolah anak laki - lakinya di rumah dia sedang menonton porno setelah aku masuk
rumah dia langsung mematikan televisi. Aku tidak memberitahukan hal ini ke
siapapun kecuali kakakku, kakakku langsung menyuruhku pindah dari sana. Aku
pura- pura tidak melihat apapun aku bergegas ke kamar ku lalu mengunci kamaar
dan menyusun semua barangku lalu keesokan harinya aku bilang ke Bu kos pindah
dengan alasan minim air. Kebetulan sudah seminggu air di sana mati. Akhirnya
aku pindah tapi masih di rumah keluarga
Saat dirumah keluarga yang kedua semuanya
baik - baik saja sebelum kedatangan anaknya dari Jakarta sebeluma anaknya
datang aku sering bercerita dengan tanteku dia sering cerita tentang anaknya
yang sudah menikah dan dulu anaknya adalah anak yang sangat nakal. Namaun
setelah ke hadiran anaknya semuanya berubah drastis.
Suatu ketika tantekos ku tidak bisa tidur.
Dia membersihkan lemari ruang tengah. Pagi hari sewaktu aku ingin pergi ke
sekolah ia memanggilku
"Bella ini apa? kamu nonton kaset
seperti ini ya, kamu itu masih remaja Tante ngga mau tau kamu buang kaset
ini." ucap tante sambil menunjukkan kaset porno.
"Ha… bukan aku tante aku enggak
pernah nyentuh lemari atau apapun dirumah ini!" jawabku dengan kebingungan
"Halah kamu nggausa bohongi saya,
jangan - jangan kamu sering bawa temen ya kerumah ini waktu saya di kebun."
balasnya dengan lantang.
"Saya tidak pernah menonton kaset itu
dan tidak pernah memiliki itu , dan satu lagi tante saya tidak pernah membawa
siapapun ke rumah Tante ini." jawabku menangis sambil pergi berangkat ke
sekolah.
sepulang
sekolah kaset itu diletak di meja makan, lalu aku memotong kaset itu lalu
membuangnya. Setelah tante pulang dari kebun aku langsung menghampirinya
"Tante ini teh manis." ucapku
"Ohh ia letak disitu aja."
balasnya
"Tante bukan aku yang punya kaset
itu, sumpah aku nggapernah sebodoh itu tante please percaya sama Bella, enggak
ada orang yang pernah kerumah ini, tante bilang dulu anak tante nakal kan, bisa
aja itu miliknya sewaktu muda atau mungkin sewaktu masa sekolah!" balasku
dengan kesal.
"Sudah tidak perlu di bahas
lagi!"
"Harus dibahas, karna aku bukan
pemilik kaset itu, apa perlu tante kita panggil anak tante ke sini!" balasku
semakin kesal.
"Tidak perlu Bela, sudah
lupakan." jawab Tante sambil minum teh.
Kejadian
itupun terlupakan tanpa diketahui siapa pemilik kaset porno itu. Aku berbicara
dengan tante setiap hari tapi tak seakrab biasanya. Bagaimana perasaanmu saat
kami di tuduh melakukan sesuatu padah kamu tidak tahu apa apa? begitu juga
perasaanku saat itu.
Selama aku kos dirumah tante mama cuman
dua kali ngunjungin aku. Selama 2 tahun bayangkan saja betapa nikmatnya alur
hidupku saat itu. Menerima raport saja
ibu tidak bisa meluangkan waktunya. Aku meyakinkan guruku seolah-olah ibu ada
urusan yang mendadak beitulah setiap kali aku menerima raport. Aku tidak pernah
membenci ibu sama sekali karna aku mengerti bebannya yang berat. Aku hanya bisa
bercerita dengan diriku sendiri dan aku
masih bertahan sampai saat itu.
Sampai setelah 6 bulan aku pulang ke
rumah karna aku membutuhkan uang untuk keperluan sekolah. Semua orang masih
sama seperti biasanya. Aku hanya bisa menahan seolah - olah tidak terjadi
apapa.
"Ehhh kamu pulang." ucap mama
yang masuk kerumah sepulang dari kebun.
"Ohhh iya mak, ada keperluan sekolah
jadi aku pulang, aku juga udah lama kan tidak pulang." Ucapku sambil
memberikan mama secangkir teh manis. Aku
bercerita dengan ibu dengan segala senyuman palsu.
Sembari tidur dimalam hari ayah ku pulang
dari warung. Aku semakin tersenyum lebar seolah - olah aku bertemu dengan orang
paling yang aku kagumi. Tapi nyatanya itu semua hanyalah topengku yang selalu
menemaniku ketika aku berhadapan dengan banyak orang.
"Ayah Minggu depan aku bawa uang di
suruh sama guru buat keperluan sekolah sekalian buat bayar uang perayaan
perpisah sekolah." ucapku kepada ayah sambil memberikan makanannya.
"Kalian hanya bisa menyusahkan! Kalo
kalian mau sekolah ya sekolah, kalo butuh duit jangan minta sama bapak. Kalo
kalian enggak punya uang buat sekolah enggak usah sekolah!" balas Ayah
dengan suara lantang.
Semenjak kejadian itu aku tidak pernah
pulang lagi sampai aku tamat sekolah menengah pertama. Aku menghasilkan uang
dari hasil kerja sebagai tukang cuci dan gosok di kota. Aku hanya menghela
nafas dan bercerita dengan diriku sendiri. Sampai akhirnya aku tamat SMP tanpa
kepedulian ibu dan ayah. Aku tidak pernah membenci ibu karna aku mengerti
bebannya. Aku kembali ke rumahku dan tingggal disana selama libur. Aku membantu
ibu di kebun, aku menyaksikan ayah mabuk lagi. Tidak ada sedikitpun semangat
dalam hidupku. Sampai sekolah tujuankupun aku tidak tahu.
Aku terlambat mendaftar di SMA negeri
kota akhirnya tidak di terima lagi dan aku masuk pilihan ke dua di SMA purba. Aku tidak peduli dengan itu
akhirnya aku dan Abang pergi ke purba untuk melakukan pendaftaran ulang. Aku
masuk sekolah kos 6 bulan lalu pindah, karena saat itu aku dituduh mengambil hp
ibu kos padahal tidak sama sekali. Akhirnya hp itu dapat di bawah kasur tidur ibu
kos. Dengan gampangnya mulutnya ngomong " aku cuma bercanda kemarin "
ucapnya dengan senyuman.
Hanya karna kesabaran yang kupunya lebih
panjang bukan berarti aku semudah itu untuk melupakan dan mengulang seperti
biasanya. Ketika aku baik berarti aku benar - benar untuk bersikap baik ketika
kamu menginjak - injak kebaikanku aku bahkan akan membuat mu merasa menjadi
orang yang paling bersalah didunia. Aku pindah ke rumah guru SMA. Aku diantar
sama ibu dan itu terakhir kalinya ibu mengunjungi aku. Ibu selalu bilang "
jaga diriya, karna kamu kuat Bella, kalo kita lagi dibawah harus sabar, jangan
sombong. Jangan lupa berdoa ya. Aku tinggal sampai saat ini dua tahun. Dan
sepertinya aku akan meninggalkan kos ini sampai tamat sekolah menengah atas.
Sejak itu ibu tidak mengunjungi ku lagi sampai hari ini. Aku lagi - lagi hanya
bercerita dengan diriku sendiri.
Tahun baru kemarin, keluargaku berkumpul
ayahku menangis dan meminta maaf kepada kami semua. Aku belajar untuk memaafkan
semuanya, keluargaku lebih sering beribadah, dan sejak tahun 2020 aku melihat
ayah dan ibu tertawa bersama untuk pertama kalinya. Sejak itulah ayah dan ibu
baik - baik saja sampai saat ini.
Aku mendapatkan lingkungan pertemanan
yang baik di masa SMA. Dan ayah menerima raport ku untuk pertama kalinya saat
kenaikan kelas 11 . Aku merasa seperti aku adalah anak sekarang. Anak yang
memiliki ayah. Dan aku juga mendapatkan bimbel online gratis saat itu. Teman -
teman siapapun kamu dimanapun kamu
berada jika kamu tengah sedih peluklah dirimu sendiri. Aku hanya bisa memberi
semangat lewat tulisan ini tanpa bisa menemani.
Ada banyak
hal yang selalu sulit dijelaskan. Jangan pernah berhenti berharap kepada Tuhan,
karna tuhanpun tidak pernah lelah memberkatimu. Aku banyak belajar dari kisah
hidupku, selalu sabar dalam setiap hal yang mengecewakan hatiku. Dan tuhan
menggantikan kekecewaan itu menjadi sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan
Orang terdekatku bahkan berani membuat
aku takut, sampai aku lupa pada mimpiku sendiri. Itulah yang kualami teman saat
aku remaja fisik, tapi sesungguhnya aku adalah dewasa secara mental. Percaya
lah teman akan ada saatnya dimana pelukan tuhan lebih terasa dari biasanya doa
- doa yang kau kau langitkan dulu akan jatuh satu persatu dalam pangkuanmu. Terkadang
tuhan menyelipkan sesuatu yang mengejutkan, melalui sesuatu yang menyakitkan.
Tidak terhitung seberapa banyak air mata
yang telah kutumpahkan, aku memiliki orang tua, saudara, keluarga bahkan teman
namun mereka hanya ada namun mereka tidak benar - benar ada untukku. Sejak
itupun aku tidak pernah meminta banyak , tidak menuntut dan tidak akan pernah
berekspresi tinggi pada manusia
Enam bulan lagi aku akan selesai di
sekolah menengah atas. Aku pernah
berpikir saat aku melihat anak ibu kos yang kuliah, pergi diantar pulang pun
dijemput dia hanya sibuk dikamarnya, lalu meminta uang kepada orangtuanya tanpa
harus berpikir panjang. Terlintas dipikiranku, " dia kuliah untuk bekerja,
sementara aku bekerja untuk kuliah. Dia butuh ilmu untuk uang sementara aku
butuh uang untuk ilmu." Tapi aku sadar teman, sesungguhnya merekapun merasakan kesulitan
yang berat karna mereka harus bertanggung jawab atas pengorbanan orangtuanya,
atas ekspektasi yang sudah di harapkan orangtuanya. Kita memiliki peran masing
- masing di dunia ini. Dan ingat " Usaha di tangan kanan, doa ditangan
kiri dan masa depan ditangan Tuhan".
Penulis Siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar